Tradisi Grebeg Besar Idul Adha Tak Lengkap tanpa Endog Abang

TEMPO.CO, Jakarta – Tradisi upacara Grebeg menjadi ritual yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat Jawa, guna memperingati hari-hari besar Islam, salah satunya Idul Adha. Di Yogyakarta, acara inti dari tradisi ini yaitu mengarak gunungan berupa berbagai makanan ke titik terdekat Keraton Yogyakarta. Untuk mendukung perayaan Grebeg biasanya terdapat sejumlah makanan tradisional yang banyak dijumpai saat pelaksanaan upacara Grebeg, salah satunya telur merah atau dikenal dengan istilah endog abang.

Diolah dari berbagai sumber, penamaan endog abang berasal dari bahasa Jawa yang bermakna telur merah. Endog abang merupakan makanan tradisional berbahan dasar telur rebus yang dicat kulitnya dengan warna merah. Warna merah yang digunakan adalah pewarna makanan sehingga tidak membahayakan isi telur ketika dikonsumsi. Agar semakin cantik, endog abang dihias dengan menggunakan kertas warna warni dengan ditusuk menggunakan bambu.

Endog abang banyak dijual ketika memasuki perayaan Grebeg, terutama Grebeg Sekaten. Halaman Masjid Besar Kauman Keraton Yogyakarta menjadi tempat pedagang menjual telur merah ini pada saat pelaksanaan pasar malam Perayaan Sekaten. Penjual biasanya menyandingkan endog abang dengan kinang. Tradisi endog abang sudah ada sejak puluhan tahun lalu dan masih terus dilestarikan hingga sekarang, khususnya bagi para perempuan usia lanjut sehingga penjual makanan ini mayoritas adalah pedagang perempuan setengah baya. Keunikan dari jajanan tradisional ini yaitu diperjualbelikan ketika perayaan Grebeg saja.

Dikutip dari Buku Kuliner Yogyakarta, Pantas Dikenang Sepanjang Masa, dalam perayaan Grebeg, terdapat tradisi memperebutkan atau ngrayah atas hasil gunungan yang dilakukan oleh warga. Tak jarang, banyak warga yang turut membawa pulang endog abang guna melengkapi keberkahan dari hasil gunungan yang diperoleh atau sekadar membeli untuk buah tangan. Endog abang dipercaya dapat membawa keberkahan, kelancaran rezeki, dan panjang umur.

Melansir laman resmi Pariwisata Kota Jogja, pariwisata.jogjakota.go.id, jajanan tradisional ini memiliki makna dan filosofi tersendiri bagi kehidupan. Terdapat tiga makna yang terkandung dalam makanan tradisional endog abang ini. Pertama, warna merah (abang) bermakna kemakmuran dan keberkahan. Kedua, telur yang melambangkan kehidupan baru. Ketiga, ruas bambu yang ditusuk secara vertikal mengga,barkan hubungan manusia dengan Sang Kuasa. Dengan demikian, filosofi endog abang secara keseluruhan yaitu kelahiran atas kehidupan baru yang lebih sejahtera dengan selalu menjadikan takdir hidup yang telah direncanakan Tuhan sebagai pedoman hidup.

Endog abang dalam prosesi adat seperti Grebeg Besar saat Idul Adha (Besar), maupun Maulid Nabi menjadi daya tarik tersendiri tak hanya untuk warga lokal, tetapi juga para wisatawan asing dan domestik untuk menyaksikan upacara Grebeg.

NAOMY A. NUGRAHENI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.