Ini 4 Mitos Soal Keperawanan yang Sebaiknya tidak Dipercaya

Keperawanan seringkali dijadikan standar moralitas bagi seorang perempuan. Beberapa negara bahkan masih melegalkan tes keperawanan agar standar moralitas tersebut dapat terus terpelihara.

Padahal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sering menyerukan himbauan untuk memberantas segala bentuk tes keperawanan. Dalam laporan berjudul Eliminating Virginity Testing yang dipublikasikan tahun 2018, WHO menyebut tes keperawanan tidak memiliki dasar ilmiah dan melanggar hak asasi manusia bagi perempuan

Di masyarakat, keperawanan sering disalahartikan oleh banyak pihak. Ada berbagai mitos yang salah kaprah dan berisiko membawa dampak negatif bagi kaum wanita. Mitos-mitos tersebut antara lain:

Selaput dara tidak utuh berarti sudah tidak perawan

Banyak orang percaya bahwa perempuan yang selaput daranya tidak utuh berarti sudah tidak perawan. Padahal, selaput dara juga bisa robek karena berbagai aktivitas selain hubungan seksual. Menurut Medical News Today, selaput dara dapat robek karena aktivitas berat seperti olahraga. Bahkan, beberapa wanita memang terlahir tanpa memiliki selaput dara.

Wanita yang masih perawan akan mengalami pendarahan saat pertama kali melakukan hubungan seksual

Mengalami pendarahan saat pertama kali berhubungan seksual adalah hal yang normal, tetapi tidak mengalaminya juga normal. Melansir dari The Health Site, kebanyakan wanita merasa gugup saat pertama kali berhubungan seksual. Kegugupan tersebut bisa menyebabkan vagina mengencang, mengurangi pelumasan di dalamnya, dan akhirnya terjadi pendarahan. Tidak semua wanita mengalami hal yang sama sehingga pendarahan tidak bisa dijadikan patokan keperawanan.

Ahli ginekologi bisa mengetahui keperawanan wanita dari selaput daranya

Dilansir dari Bedsider, mitos umum lainnya menyatakan bahwa ahli ginekologi dapat mengetahui apakah seorang wanita pernah melakukan hubungan intim atau tidak dengan memeriksa selaput daranya. Faktanya, setelah pubertas, dokter tidak bisa menilai keperawanan perempuan berdasarkan hal tersebut.

Wanita yang sudah tidak perawan akan berjalan dengan kaki mengangkang

Cara wanita berjalan tidak memiliki hubungan dengan keperawanan. Jika perempuan berjalan mengangkang setelah berhubungan seksual, bisa jadi penyebabnya karena rasa sakit dan hanya bersifat sementara. Faktanya, baik wanita maupun laki-laki, cara berjalannya dipengaruhi oleh pertumbuhan dan perkembangan.

SITI NUR RAHMAWATI

WHO: Tes Keperawanan tidak Ilmiah dan Melanggar HAM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.